Friday, September 5, 2008

PILIH NGANTOR APA FREELANCE?

Banyak yang mempermasalahkan mana sih yang lebih enak desainer kerja kantoran atau freelance. Masing masing dari mereka saling membandingkan dan menjugje kalau apa yang mereka pilih itu jauh lebih baik. Desainer kantoran ngotot kalau bekerja di kantor itu jauh lebih menjamin masa depan. Pekerja freelance juga begitu, mereka menilai kalau para pekerja kantoran itu hanya sebagai boneka para bos biro desain dan advertising yang tengah senang menikmati hasil pitching sedangkan para karyawan harus lembur sementara gajian tetap seret dengan alasan perusahaan sedang devisit. Sebaliknya mereka para frelancer membanggakan diri karena dapat menikmati hasil kerja keras mereka secara utuh. Lalu apa yang sebenarnya terjadi, ketika ada seorang mantan desainer memutuskan untuk membuka warung soto dan rawon untuk mengisi masa tuanya dan berpesan kepada mereka, "Jangan mau jadi desainer!" masing-masing dari mereka diam dan bertanya pada diri sendiri, "Iya yaah, emang apa sih enaknya jadi seorang desainer ?"

Syukri seorang pekerja di biro desain dan pernah di ad agency juga berpendapat.
"Karena saya dari lulus jebrot sudah berada di lingkungan perkantoran maka saya merasa senang bisa bekerja di kantor, selain membuat orang tua saja bangga karena anaknya adalah pegawai kantor, saya juga merasa senang dapat menerapkan ilmu saya dan masih bisa selalu belajar banyak di tempat itu. Saya merasa jadi orang yang lebih smart, walaupun gajian saya suka mundur, tetapi saya merasa kalau apa yang saya lakukan ini adalah semata-mata karena ibadah. Seorang klien membutuhkan desainer untuk memecahkan masalah penjualan produknya, dan alhamdulillaah saya sebagai desainer merasa bangga karena dapat membantu klien tersebut walaupun hanya sebagian kecil saja".

Yance seorang desainer freelance yang proyek dan karyanya sudah mendunia dan tampil menghiasi beberapa cover majalah desain luar negri juga turut berpendapat dalam masalah ini.
"Kalau menurut saya sih lebih baik kita pilih jalur kerja freelance laah. Ngapain sih kita harus kerja keras untuk orang lain sedangkan mereka sama sekali tak pernah menghargai usaha kita, eh pernah sih pernah tapi gak tiap hari kan. selain kita bisa lebih maju dalam self promotion, kita juga mampu meraup keuntungan yang lebih, memang sih uang bukan segala-galanya tapi segala-galanya sekarang tuh butuh uang, ya nggak bro! yoooi ... yongkru!!! Selain itu hidup ini kan gak cuma kerja, ada my puppies, pacaran, kuliner, piknik, foto-foto , gatering ma temen-teman dan berbagi ilmu ma mereka, ojo koyo wong susah laah. Nikmati hidup yang hanya sekali ini".

Shilla yang desainer ad agency tak mau ketinggalan mendebat apa yang dikatakan yance.
"Menurut saya kerja di ad agency atau kantoran itu lebih terhormat, selain bisa dibanggakan kita juga banyak punya chanel kerja link-link dan kita juga bisa kenal dengan para creative yang luar biasa hebatnya. Kalo freelance saya juga bisa, pulang kantor kerjain desain brosur, kartu nama, itu juga namanya freelance kaan, bisa disambi laah. Bukan itu aja, kerja kantoran sih menurutku kehidupan jadi lebih tertata, pagi masuk- sore pulang, makan sehari tetep 3 kali, tempatku sih jarang banget ada lembur, dan bos menghargai banget jatah kerja karyawan. Dia gak bakalan bikin karyawannya cape kan ntar dia juga yang rugi kalau kita akhirnya sakit, untung aja aku juga gak pernah mundur gajinya, selalu tepat waktu. Kalo menurutku kejadian-kejadian seperti lemburan banyak dan telat gaji itu adalah kesalahan dari kita sendiri. kenapa pada awal kita ngelamar kita gak survey dulu gimana perusahaannya bonafid gak, atau pura-pura bonafid demi status dan demi kepentingan mencari karyawan?"

Wahyudi pembuat undangan, merasa dirinya seorang freelancer sejati.
Kalau saya anti pati sama yang namanya kantor. Saya punya temen suombongnya minta ampun. dia pindah dari advertising satu ke advertising yang lain. Padahal dia itu karyanya gak bagus2 amat, kadang malah terkesan maksa. Komunikasinya agak berbelit dan susah dicerna oleh masyarakat awam. Katanya sih itu ciri-ciri iklan yang memperoleh penghargaan, mana buktinya dia dapat penghargaan tapi masyarakate nggak dong sama aja boong. Mendingan saya, jualan undangan, hasilnya memuaskan. Produksi sendiri kadang-kadang di bantuin teman, dan sebentar lagi saya mau beli mobil sedan, ya... hasil dari jualan undangan. Dulu teman saya itu pernah nawarin saya kerja di bekas kantornya dia, sory sory aja, kalo saya sampai kerja di sana, kapan saya kayanya!"

Ardi yang baru putus dari pacarnya karena orang tua pacarnya gak setuju, merasa perlu ikutan ngomong eh curhat maksudku.
"Mungkin memang sudah nasib saya tak diterima di beberapa biro desain atau ad agency waktu itu karena mungkin karya saya yang pas-pasan dan kondisi saya yang DO, makanya saya memutuskan untuk menekuni kerja sebagai freelancer. Alangkah malangnya nasib saya, cobaan tak berhenti disini, setelah saya merasa sudah seattle menjadi seorang freelancer dan karya saya sudah diakui oleh sebagian orang, Sri pacar satu-satunya kesayangan saya memutuskan kisah percintaan ini. Dia bilang kalau orang tuanya tidak setuju, karena saya tidak bekerja. Padahal saya sudah berusaha meyakinkan orang tuanya kalau saya ini seorang desainer freelancer dan sanggup menghidupi Sri bahkan jika kita punya anak 3 sekalipun. Namun mereka tidak percaya. Mereka tetap beranggapan kalau seorang laki-laki harus punya pekerjaan yang layak, yang bisa dijadikan jaminan masa depan istrinya. Mereka mengatakan pada saya: "Apa yang akan terjadi jika nak Ardi meninggal di usia muda sedangkan Sri punya tiga anak, dan tak ada sedikitpun tunjangan, sama sekali. Oleh karena itu kami telah memilihkan jodoh untuk anak kami Sri, dengan seorang Polisi yang mempunyai kedudukan di Polres. Sekali lagi maafkan kami nak Ardi, kami hanya ingin yang terbaik untuk masa depan anak kami Sri". Lalu saya berteriak, buat apa uang sebanyak ini, buat apa rumah ini jika tak ada gadis yang kucintai".

Wuiiih tragis, nah itu tadi beberapa uneg-uneg dari pro dan kontra antara para pekerja desain kantoran dan freelancer, kira-kira apakah kamu punya cerita lain selain cerita dan argumen mereka?

Menurut saya semua pekerjaan itu baik, kantoran ataukan freelance sama saja, (sama-sama seneng ya sama sama capek, namanya juga kerja!) dan apa yang telah kita terima dari sebuah pekerjaan itu adalah hal yang patut kita syukuri. Hasilnya, mau dikit mau banyak rasanya Tuhan sudah mengaturnya untuk kita. Apaun pekerjaan kita, itulah jalan hidup yang kita pilih saat ini. Kalau kita ingin merubahnya, Tuhan pasti tak akan marah. Tuhan selalu ingin hamba-hambanya maju dan berkembang, oleh sebab itu Tuhan memberi kita akal, pikiran, ilmu serta semangat. Huuufffhh sepertinya yang terakhir itu adalah wejangan buat saya pribadi.

3 comments:

Hedi said...

betul, jangan kaya orang susah :D

asmara said...

wah yang mo full freelance ....

erwan said...

Halllu mas,saya turut berduka buat mas ardhi,dan buat calon mertuanya menurut saya alasane tidak masukakaldalam konteks hari ini. menurut saya freelance sama dengan kerja kantoran. memang kerja kantoran lebih teratur buat tunjangan, gaji de el el..tapi freelancer juga bisa ngatur sendiri. lha wong sekarang sudah banyak produk asuransi je:) yang otosmatis berlaku saat misalnya mas ardhi meninggal setelah mbaca ijab hehehehehehehehe....